SSV INDONESIA

Jauh sebelum Perang Dunia II pecah, di Indonesia sudah terdapat SSV dengan nama Vincentius Vereniging (armenzorg). Ada 8 konferensi. Anggota-anggotanya terdiri dari orang-orang Belanda yang secara aktif berkarya dan menolong orang-orang Eropa dan Indo Eropa.
Pada tahun 1942, saat pendudukan Jepang, banyak pengurus SSV yang ditahan oleh Jepang sehingga konferensi-konferensi yang sudah ada terpaksa berhenti dan bubar.

Pada tanggal 19 Juli 1963 merupakan babak baru bagi SSV Indonesia. Bertepatan dengan Pesta Pelindung Karya Amal St. Vinsensius de Paul, di ruang Legio Maria Pastoran Katolik Gereja St. Vinsensius Kediri, Rm Gerard Boonekamp, CM mendirikan konferensi St. Vinsensius Kediri. Anggotanya umat pribumi/Indonesia.

Susunan pengurusnya sebagai berikut: Ketua RG Toegiono, Penulis Christ Haryono, dan Bendahara TT Sabdo Oetomo. Dalam pertemuan itu hadir pula Agus Soejadi.

Konferensi ini adalah awal cikal bakalnya organisasi Serikat Sosial Vinsensius (SSV) Indonesia.
Dalam pertemuan ini, Rm Gerard Boonekamp CM menyampaikan mengenai sejarah dan perkembangan SSV dunia hingga perluasannya sampai ke Indonesia, maksud dan tujuan SSV, tata cara pertemuan dan karya SSV.

Rm Gerard Boonekamp CM selanjutnya merintis berdirinya konferensi yang serupa di kota-kota sekitar Kediri antara lain Warujayeng, Kertosono dan Nganjuk. Seminggu sekali Romo mengunjungi kota-kota tersebut untuk mengurus sekolah katolik, mengadakan misa, mengajar agama, menghadiri rapat Legio Maria dan merintis berdirinya SSV.

Rm Gerard Boonekamp CM menyadari bahwa beliau memiliki banyak keterbatasan maka SSV diserahkan kepada awam dibawah bimbingan beliau. Untuk Kertosono diserahkan kepada Marjudi, Warujayeng Soekisto, dan Nganjuk Fred Soesilo Hadhi. Khusus untuk kota Nganjuk anggota SSV relatif lebih banyak, C. Priyo Soebari mengajar di SPG Negeri dan J. Soeparlan mengajar di SMA Negeri, maka anggota SSV terdiri dari murid-murid SMP Kls III, siswa-siswi SMA/SPG dan muda-mudi Paroki.

Usaha Rm Gerard Boonekamp CM untuk melebarkan sayap SSV tidak berhenti di sekitar kota-kota di Kediri. Romo berkeyakinan bahwa SSV dapat menjadi sarana kerasulan untuk memperkenalkan wajah gereja katolik yang penuh cinta kasih, melalui karya sosial anggota SSV dapat menyucikan diri dan memperdalam iman katolik serta sarana penobat baru maka beliau menulis surat edaran (10 Maret 1964, 8 Juni 1964 dan 1 September 1964) yang ditujukan kepada seluruh romo-romo di Indonesia. Rm Gerard Boonekamp CM menyadari bahwa di Indonesia inisiatif mendirikan SSV kebanyakan harus berasal dari para romo. Bila ada romo yang berkenan mendirikan SSV dan bersedia membuat SSV tersebut berjalan selama satu tahun maka Romo Gerard Boonekamp CM bersedia mendukung dana untuk kelancaran aktivitas konferensi. Selain itu secara teratur konferensi akan mendapatkan bantuan pakaian layak pakai, bahan makanan dan obat-obatan dari luar negeri. Romo Gerard Boonekamp CM telah menjalin hubungan yang sangat baik dengan SSV luar negeri khususnya Dewan Umum SSV di Paris, dan SSV Australia sehingga mereka bersedia mendukung aktivitas dan karya SSV Indonesia.

Romo Gerard Boonekamp CM juga menulis surat edaran (20 Mei 1964) kepada Kepala sekolah-sekolah Katolik dan pengurus asrama-asrama katolik di seluruh Indonesia dengan tujuan agar terbentuk konferensi kaum muda. Tujuannya agar SSV menjadi sekolah rohani bagi kaum muda untuk memperdalam iman katolik yang masih dangkal melalui cinta kasih kepada sesama yang miskin dan menderita sehingga iman mereka semakin dewasa dan menjadi katolik sejati.

Surat-surat edaran Rm Gerard Boonekamp CM mendapat tanggapan yang positif, mulailah mengalir berpuluh-puluh surat dari berbagai daerah di Indonesia ke SSV Kediri. Ada surat tanggapan yang berasal dari para romo, suster maupun awam katolik yang bersedia memulai karya cinta kasih SSV. Diberbagai daerah mulailah berdiri konferensi SSV, diantaranya adalah: Onekore, Ende (20 September 1964), Kisol, Ruteng (27 September 1964), Jember (1964), Bandung (1964), Surabaya (1964), Cicurug (1964), Bima, Makale (1964), Garut, Batu (17 September 1965), Minanga (1965), Laurus Atambua Timor (25 Pebruari 1966), Probolinggo, Situbondo, Balige, Medan, Kotabumi, Tampo dan Cilacap.
Di Cilacap inilah untuk pertama kalinya konferensi didirikan oleh awam, yaitu oleh J. Gondo Judrasono. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Denas Periode 1980-1983. Menabur benih SSV bukanlah hal yang mudah. Tidak semuanya menanggapi secara positif. Di Yogyakarta, konferensi yang didirikan oleh awam (Benedictus Alib dan G. Saloman) tidak mendapat ijin dari pembesar gereja sehingga konferensi tersebut harus bubar. Namun seiring dengan perjalanan waktu, akhirnya terbentuk konferensi di Paroki Bintaran.

Rm Gerard Boonekamp CM menyadari cepat atau lambat konferensi-konferensi muda ini akan mati bila tidak dibina dengan baik. Maka beliau menekankan pentingnya komunikasi melalui korespondensi, publikasi dan penyebaran bacaan rohani yang berkaitan dengan SSV. Melalui buku-buku rohani, anggota SSV dapat memperdalam pengetahuannya tentang SSV dan mengamalkannya.

Tanggal 3 Oktober 1964,bertepatan dengan Pesta Nama Santa Theresia Kecil Pelindung Misi, Rm Gerard Boonekamp CM menerbitkan Berita SSV yang pertama sebagai media komunikasi dan sarana untuk mengembangkan misi di Indonesia secara mendalam dan meluas. Harapan Rm Boonekamp CM, Berita SSV merupakan sarana penyuluhan dan mata rantai antara SSV Indonesia sendiri maupun dengan luar negeri. SSV Kediri dalam hal ini menyediakan diri untuk menjadi perantara antara SSV Indonesia maupun SSV Luar Negeri bila perlu.

Ada beberapa buku SSV yang diterbitkan antara lain:
1. Gerakan Sosial Baru dalam Gereja di Indonesia (1 Juni 1965) sejumlah 5.000 exp. Nopember 1964, Rm Gerard Boonekamp CM berusaha keras menerjemahkan dari berbagai buku (Bahasa Belanda dan Inggris). Penerjemahan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia dibantu oleh REM Sarkam, Fred Susilo Hadi dan J. Soeparlan. Terjemahan sebelum dicetak disempurnakan oleh Christ Haryono.

2. April 1965 dicetak lembaran doa sebanyak 10.000 eksemplar dan Riwayat Santo Vinsensius terbitan Frater Seminari Garum.

3. 8.000 selebaran tentang SSV sebagai Pendidikan Sosial.

4. Riwayat Hidup Frederic Ozanam

5. Gereja Hamba Orang-orang Miskin

6. Aturan-aturan SSV yang disederhanakan sebanyak 10.000 exp

7. Gambar Santo Vinsensius sebanyak 50.000 lembar, setiap konferensi mendapat 100 lembar. Setiap anggota mendapat satu lembar, sisanya dijual untuk kas SSV.

8. Pebruari 1966 Buku Pegangan SSV. Dicetak di Surabaya. Buku ini diterjemahkan oleh Soejoso (Kepala SMAK Kediri). Perbaikan terjemahan dilakukan oleh Suster Marie Theresia OSU. Buku Pegangan ini diberi ilustrasi berupa fignet karya Sdr. Harnomo (seorang siswa SMAK Kediri, bukan Katolik), dicetak 5.000 exp dan 100 exp terbitan lux untuk para donatur yang dapat memperolehnya dengan menyumbang Rp. 50,00 uang baru.

9. 24 Oktober 1968 diterbitkan Deklarasi dan Aturan-Aturan sebanyak 2.000 exp.

Semua buku-buku ini dibagikan ke konferensi dan mereka yang membutuhkan informasi mengenai SSV secara gratis.

Publikasi SSV dilakukan juga melalui membagi buku-buku SSV dalam Pertemuan Nasional diantaranya dalam Konggres Nasional Persatuan Guru Katolik (PGK) pada bulan Juli 1965 di Semarang oleh Fred Soesilo Hadi dan Konggres Pemuda Katolik, Juli 1965 di Jakarta oleh J. Soeparlan dan CP Soebari dibantu Sukisto dan Mardjudi.

Rm Gerard Boonekamp CM telah berpikiran jauh ke depan. Konferensi-konferensi yang telah berdiri perlu bersatu dalam wadah ikatan resmi agar dapat lebih berkembang dan langgeng, maka beliau memandang perlu adanya Dewan Wilayah (Dewan Pusat).
Beliau mendorong terbentuknya Dewan Wilayah agar SSV lebih terorganisir.Hal ini berkaitan pula dengan kondisi kesehatan Romo Gerard Boonekamp CM yang mengharuskan beliau cuti ke Eropa sehingga tidak bisa memberikan perhatian penuh untuk memelihara dan mengembangkan SSV di Indonesia. Untuk sementara Konferensi Nganjuk telah diberi tugas untuk melaksanakan kelanjutan korespondensi dan menerbitkan Berita SSV. Sebelum ijin cuti, beliau berpesan kepada SSV Indonesia “Buatlah orang-orang miskinmu berbahagia”.
Selama cutinya, Rm Gerard Boonekamp CM masih meluangkan waktunya untuk SSV dengan menghadiri 2 Pertemuan SSV Internasional yaitu di Paris dan Australia. Hasil Pertemuan di Paris adalah SSV Indonesia bergabung dengan SSV Internasional sebagai negara ke-107. Sedangkan hasil pertemuan di Australia adalah SSV di negara misi seperti Indonesia perlu dan sedapat mungkin dibantu, menjalin hubungan antara SSV Indonesia dan SSV Australia, SSV Malaysia diberi tugas mengunjungi SSV Indonesia.

Jalan menuju terbentuknya Dewan Wilayah (Dewan Pusat) semakin terbuka setelah SSV mengadakan Pertemuan Umum.
1. Pertemuan Umum I dilaksanakan hari Minggu sesudah Paskah 1966 di Kediri. Dihadiri 50 orang dari 5 Konferensi (Kertosono, Nganjuk, Warujayeng, Kediri dan Loceret). Dalam pertemuan ini selain konferensi melaporkan kegiatan juga diselenggarakan diskusi mengenai administrasi, keuangan, rapat, kunjungan, karya SSV, semangat kerja, pengkudusan dan mempelajari Buku Pegangan.

2. Pertemuan Umum II tanggal 2 Oktober 1966 di Gedung Seminari Tinggi Katolik (skrg Gereja Katolik St. Yosep) di Kediri. Dihadiri 7 Konferensi. Dalam pertemuan ini dibahas mengenai pendirian Dewan Wilayah di Indonesia, kedudukan Dewan Wilayah SSV di Surabaya atau Kediri dan Pertemuan Umum berikutnya ditetapkan di kota Blitar.

3. Pertemuan Umum III bulan Juni 1967 diselenggarakan di Gedung SD Santa Maria Blitar. Saat ini di Indonesia sudah berdiri 33 konferensi. Pertemuan dipimpin oleh Fr. Oenarto Moeljopranoto. Dalam pertemuan ini dibahas mengenai penyempurnaan tata kerja SSV, tertib organisasi, laporan dari konferensi dan tukar menukar pengalaman.

4. Pertemuan Umum IV di Seminari Tinggi Katolik Kediri, 6 Juli 1969. Dihadiri 14 konferensi se-Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang. Dalam pertemuan ini dibentuk pengurus Dewan Wilayah SSV dengan ketua C. Priyo Soebari dan Penasehat Rohani Rm Piet Boonekamp CM. Kedudukan Dewan Wilayah Surabaya/Malang ditetapkan di Surabaya.

Tanggal 27 Desember 1969, Rm Gerad Boonekamp CM secara mendadak meninggalkan kita untuk selama-lamanya karena serangan jantung di Cibulan, Jakarta. Jenasahnya dimakamkan di makam Menteng Pulo, Jakarta pada tanggal 29 Desember 1969. Jenasah dipindahkan ke Kembang Kuning, Surabaya, 1992. 16 Januari 2018 dipindahkan ke Graha Martani Vinsensius Puhsarang, Semen, Kediri.

Kesehatan Rm Gerard Boonekamp CM memang tidak terlalu baik setelah mengalami banyak penderitaan pada jaman pendudukan Jepang. Beliau mempertaruhkan hidupnya untuk seorang “sahabat”, seseorang yang terluka, yang kemudian dianggap sebagai mata-mata oleh Jepang. Dengan sabar, beliau menanggung konsekuensinya. Beliau dituduh telah melindungi mata-mata dan sempat dijatuhi hukum mati tetapi hukuman diubah menjadi hukuman kerja selama 15 tahun di penjara Cipinang. Rm Gerard Boonekamp CM yang semula sehat dan kuat lama kelamaan tergerogoti kesehatannya dan mmebutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih namun tidak sepenuhnya sehat.

Bapak C. Priyo Soebari pada awalnya masih dapat memimpin Dewan Wilayah dengan baik, namun karena berbagai kesibukan di Nganjuk baik sebagai tokoh umat maupun tokoh politik sedangkan pertemuan Dewan Wilayah setiap hari Rabu diselenggarakan di Surabaya, maka beliau menyerahkan kepengurusan kepada pengurus di Surabaya. Tanggal 19 Juli 1970, diselenggarakan Pertemuan Dewan Wilayah Surabaya – Malang di Balai Pertemuan Gereja Hati Kudus Yesus Surabaya. Dihadiri 19 konferensi. Dalam pertemuan tersebut, Bpk. John H. Suwito terpilih sebagai Ketua Dewan Wilayah yang baru dengan Penasehat Rohani Rm. Piet Boonekamp CM.

Dewan Wilayah Surabaya Malang dengan memperhatikan perkembangan konferensi-konferensi di Indonesia membentuk Dewan Wilayah lainnya yaitu 17 Maret 1971 terbentuk Dewan Wilayah Makale, tanggal 21 Desember 1971 Dewan Wilayah Malang berdiri sendiri lepas dari Dewan Wilayah Surabaya Malang, dan tanggal 12 Maret 1973 di Lampung terbentuk Dewan Wilayah Lampung.

Dengan terbentuknya beberapa Dewan Wilayah dan jumlah konferensi di Indonesia sudah mencapai 80 Konferensi, maka Dewan Umum memandang perlu untuk membentuk Dewan Nasional Indonesia sehingga SSV Indonesia dapat berdiri sendiri, tidak tergabung lagi secara administratif dengan Dewan Nasional Australia. Pada tanggal 12 Maret 1973 secara resmi Dewan Umum di Paris membentuk Dewan Nasional Indonesia dengan menunjuk Bpk. John H. Suwito sebagai ketuanya.

Dewan Nasional Indonesia senantiasa berusaha untuk selalu menyemangati, mendorong dan menumbuhkembangkan SSV Indonesia melalui kegiatan pembinaan, pelatihan, kunjungan penyemangatan, mengadakan pertemuan-pertemuan nasional, menjalin hubungan dengan SSV Luar Negeri dan kelompok-kelompok sosial misalnya KeVin, keuskupan dan lainnya, menghadiri pertemuan SSV Internasional dan terlibat dalam karya sosial diantaranya bantuan untuk bencana alam. Benih yang ditaburkan oleh Rm Gerard Boonekamp CM telah bertumbuh dan berkembang. Saat ini di Indonesia terdapat 8 Dewan Wilayah, 36 Dewan Daerah dan 358 Konferensi dengan melibatkan lebih dari 4000 Vinsensian yang aktif berkarya melayani kaum miskin.

Create Account



Log In Your Account