PARA KUDUS

SANTO VINSENSIUS DE PAUL
(1581 – 1660)
PELINDUNG SSV

Lahir pada tanggal 24 April 1581 sebagai anak desa Pouy, Perancis Selatan. Karena kecerdasannya maka keluarganya menyekolahkan dengan maksud dapat mengangkat status sosial ekonomi keluarganya.
Demi tujuan itu, ia kemudian menjadu imam ditahbiskan 23 September 1600. Walau berbekal pendidikan yang cukup baik untuk ukuran imam zaman itu, ternyata perjalanan hidup selanjutnya diwarnai banyak kesulitan dan kegagalan. Berangsur-angsur lewat bimbingan rohani juga, Vinsensius menjadi lebih sadar akan panggilan Tuhan baginya.

Lewat krisis iman yang hebat, ia menemukan panggilan Tuhan baginya untuk mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan demi pelayanan orang miskin, memgikuti Yesus Pewarta Injil kepada orang miskin (Luk 4:18). Dengan tuntunan Penyelenggaraan Ilahi, ia senantiasa tanggap pada kebutuhan orang miskin yang dilihatnya.

Dia mulai khotbah Misi Umat untuk menanggapi kebutuhan rohani orang miskin yang sering kurang terlayani (1617). Pada tahun yang sama ia menggerakkan umat untuk menanggapi kebutuhan jasmani mereka, dan mendirikan Persaudaraan Cinta Kasih. “Orang miskin menderita kelaparan, dan terancam masuk neraka…karena itu kita harus membawa roti dan Injil kepada mereka.” Untuk menjamin terlaksananya Misi Umat dia mendirikan Kongregasi Misi (1625). Sadar bahwa Gereja harus berubah mulai dengan para imamnya, ia mengadakan retret bagi calon tahbisan (1628) yang kemudiwn berkembang menjadi “Konferensi Hari Selasa” (1633), yakni perkumpulan imam dan uskup yang berkumpul setiap hari Selasa untuk menyegarkan panggilan dan pelayanannya. Kemudian bersama Santa Luisa de Marillac, dia mendirikan Serikat Suster Putri Kasih (1633) untuk menjamin pelayanan langsung kepada orang miskin. Dengan ini Vinsensius membaharui hidup membiara terutama bagi kaum perempuan yang tadinya harus selalu berada dalam biara, menjadi para suster yang mengikuti Yesus untuk mewartakan Injil kepada orang miskin dan hidup membiara ini mempengaruhi hampir semua gerakan awam dan tarekat religius yang mau tanggap pada kemiskinan di abad 19.

Santo Vinsensius benar-benar memgubah wajah kerohanian Gereja waktu itu yang identik dengan biara-biara megah dengan membawa Injil ke tengah-tengah dunia dengan menanggapi kebutuhan orang-orang yahg paling menderita. Ketulusan dan kerendahan hatinya menarik banyak orahg termasuk para bangsawan bahkan ratu sekalipun mengikutinya untuk menjumpainya Tuhan dalam diri orahg miskin. “Marilah kita mengasihi Tuhan saudara-saudaraku namun marilah kita mengasihi Dia dengan lengan tersingsing dan keringat bercucuran.”

St. Vinsensius meninggal pada tanggal 27 September 1660. Tanggal 13 Agustus 1729, Vinsensius dinyatakan sebagai Beato oleh Paus Benediktus XIII, 8 tahun kemudian pada 16 Juni 1737 dinyatakan Santo oleh Paus Clement XII, dan pada tahun 1885 oleh Paus Leo XIII diangkat sebagai Pelindung Karya Kasih. Tulisan-tulisan dan karya-karya St. Vinsensius de Paul menjadi pedoman karya-karya dan peraturan Serikat sejak tahun 1835. Nama St. Vinsensius menjadi pelindung Serikat dan teladan karya yang dilakukan Frederic Ozanam. Pesta perayaan St. Vinsensius adalah tanggal 27 September.

BEATA ROSALIE RENDU
(1786 – 1856)
PENASEHAT ROHANI PERTAMA SSV

Yohana Maria Rendu lahir pada tanggal 9 September 1786, di Desa Confort, Daerah Gex, Wilayah Jura, Perancis. Dia anak pertama di antara empat anak putri.

Pada tanggal 25 Mei 1802, Yohana Maria masuk Rumah Induk Puteri Kasih di rue du Vieux Colombier di Paris. Yohana Maria mendapat nama Suster Rosalie Rendu PK.

Suster Rosalie mengabdikan dirinya secara total selama 54 tahun melayani daerah Mouffetard. Ia memperjuangkan “membendung kemiskinan untuk mengembalikan martabatnya kepada manusia.”
Daerah Mouffetard terkenal menonjol kemiskinannya. Wabah kolera (1832, 1846) kala itu dalam satu hari dapat menewaskan sekitar 150-an orang. Kurangnya kebersihan dan kemiskinan menyebabkan wabah merajalela. Suster Rosalie mengorganisir para susternya dan relawan untuk memberikan bantuan yang diperlukan. Bahkan Suster Rosalie memungut jenasah-jenasah yang terbuang di jalan-jalan.

Selama pemberontakan Juli 1830 dan Februari 1848, dibangun banyak barikade. Terjadi pertempuran berdarah antara kaum buruh dan para pendukung penguasa. Uskup Agung Paris, Denis Auguste Affre, dibunuh saat mencoba melakukan intervensi antara kelompok yang berperang. Sr. Rosalie sangat berduka. Dia sendiri menaiki barikade untuk mencoba dan membantu para pejuang dari semua kubu yang terluka. Tanpa rasa takut, ia mempertaruhkan hidupnya dalam konfrontasi. Keberaniannya dan sikapnya yang sangat bebas mengundang rasa kagum dari semua pihak. Dibantu oleh dokter Ulysse Trelat, seorang republican yang sejati, Sr. Rosalie menyelamatkan banyak orang yang terlibat dalam pemberontakan.

Saat berusia 29 tahun, ia diangkat menjadi pimpinan dalam komunitas yang tinggal di rue des Francs Bourgeois, yang akan dipindahkan dua tahun kemudian, di rue de I’Epee de Bois, karena tempat yang pertama terlalu sempit. Sebagai pimpinan, komunitasnya konon diliputi suasana persaudaraan yang akrab; komunitas itu sekaligus rumah formasio; komunitas itu adalah komunitas kerasulan dan doa. Ruang tamu di rue de I’Epee de Bois tak pernah sepi, menjadi pusat jaringan mewujudkan semangat saling membantu. Setiap orang yang datang untuk minta atau memberi bantuan: orang miskin dan orang kaya, orang yang berkuasa atau orang yang tak berdaya. Sr. Rosalie mengenal semuanya. Uskup, imam, duta besar Spanyol (Donoso Cortez), Carlo X, Jenderal Cavaignac, Kaisar Napoleon III dengan istrinya, sering terlihat di ruang tamunya. Mahasiswa hukum, kedokteran, ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, pelatihan guru, dan yang lainnya datang mencari Suster Rosalie untuk mendapatkan informasi dan rekomendasi.Sr. Rosalie menjadi pusat dari gerakan amal di Prancis pada awal abad ke-19. Suster Rosalie dikenal sebagai ibu dari semua kalangan.

Frederic Ozanam juga bertemu dengan Sr. Rosalie di ruang tamu rue de I’Epee-De-Bois. Tidak lama setelah pertemuan pertama, Konferensi Cinta Kasih berdiri, 23 April 1833.
Suster Rosalie mengajari Ozanam dan kawan-kawannya bagaimana cara melakukan kunjungan ke rumah orang-orang miskin. Dari dia, mereka belajar melihat Tuhan dalam diri kaum miskin. Sambil menunjukkan keluarga-keluarga yang perlu dikunjungi, dia mengusulkan kepada mereka cara kristiani mendekati orang miskin, memperlakukan mereka dengan sikap penuh hormat, memandang mereka sebagai saudara, yang mempunyai kekayaan-kekayaan sebagai manusia.

Pada tanggal 7 Februari 1856, Sr. Rosalie meninggal. Sebelumnya ia mengalami sakit dan perlahan-lahan mengalami kebutaan selama 2 tahun terakhir hidupnya. Tak terhitung yang datang untuk memberikan penghormatan yang terakhir. Mereka semua memyebut sebagai teman-teman Suster Rosalie Rendu. Sampai sekarang makamnya di Pemakaman Montparnasse tak pernah sepi oleh karangan bunga dari orang-orang yang mengunjunginya, baik miskin maupun kaya. Di atas makam terdapat salib besar bertuliskan: “Kepada Suster Rosalie, sahabat-sahabatnya yang sangat berterima kasih, orang-orang kaya maupun orang-orang miskin.”

Pada tanggal 9 Nopember 2003, Paus Yohanes Paulus II memgangkatnya ke dalam bilangan orang-orang yang terberkati, “Beata Rosalie Rendu”. Pesta Peringatannya setiap tanggal 7 Februari. Inilah kutipan kotbah Bapa Suci: “Pada suatu masa yang digoncang oleh aneka konflik sosial, Rosalie Rendu dengan gembira mau menjadi hamba-hamba orang-orang yang paling miskin, untuk mengembalikan martabat kepada mereka, melalui bantuan material, pendidikan dan pembinaan iman kristiani, dan juga dengan mendorong Ozanam mengabdikan diri bagi pelayanan untuk orang-orang miskin. Cinta kasih Suster Rosalie amat kreatif. Darimana dia menimba kekuatan untuk mewujudkan begitu banyak aktivitas? Dari semangat doa yang menjiwai seluruh hidupnya, dan dari ketekunan dalam berdoa Rosario yang tak pernah lepas dari dia. Rahasianya sangat sederhana: sebagai puteri St. Vinsensius de Paul, seperti seorang suster lain dari zamannya, Suster Katarina Laboure, dia melihat wajah Yesus dalam setiap orang yang dijumpainya. Marilah bersyukur atas kesaksian tentang kasih yang terus-menerus dihadirkan pada dunia oleh Keluarga Vinsensian.”

BEATO FREDERIC OZANAM
(1813 – 1853)
PENDIRI SSV

Frederic Ozanam dilahirkan di Milan (waktu itu dibawah wilayah Perancis) pada tanggal 23 April 1813 dari orang tua yang saleh dan dermawan. Dua tahun kemudian keluarganya pindah ke kota Lyon dimana Frederic Ozanam tumbuh dewasa.Saat remaja Frederic Ozanam mengalami krisis iman, namun dalam bimbingan Abbe Noirot seorang imam dia menemukan kembali iman katoliknya, bahkan semakin kokoh sehingga selanjutnya ia menjadi orang beriman yang sangat aktif. Memenuhi harapan ayahnya Frederic Ozanam masuk kuliah hukum di Sorbonne, Paris pada tahun 1831. Suasana kota besar yang individualis membuat Ozanam semula tidak krasan, beruntung dia segera menemukan sahabat-sahabat. Pada waktu itu suasana anti Gereja sebagai kelanjutan Revolusi Prancis sangat terasa, juga dalam kampus universitas.

Ozanam dan beberapa temannya Paul Lamache, Felix Clave, Auguste Le Tailandier, Jules Devaux, Francois Lallier dan seorang profesor mereka Emmanuel Bailly merasa tertantang untuk menjawab serangan tersebut. Mula-mula mereka mendirikan suatu kelompok yang dinamakan Konferensi Sejarah, yaitu suatu kelompok diskusi tentang agama dan sejarah untuk menunjukkan sumbangan Gereja bagi peradaban umat manusia.

Tetapi ejekan dari musuh-musuh Gereja dengan pertanyaan: “Dulu memang Gereja berbuat banyak, tapi mana perbuatanmu yang membuktikan kebenaran imanmu sekarang?, membuat Frederic Ozanam dan teman-temannya menyadari bahwa diskusi saja tidak banyak gunanya. Maka pada 23 April 1833, mereka membentuk Konferensi Cinta Kasih dengan kegiatan nyata mengunjungi dan membantu orang-orang miskin di bawah bimbingan Suster Rosalie Rendu PK.
Prof. Emmanuel Bailly menjadi ketua mereka yang pertama. Dua tahun kemudian, yaitu 1835 perkumpulan itu merumuskan aturan yang pertama dan memakai nama Serikat Santo Vinsensius seturut teladan Santo Vinsensius yang sangat mengasihi orang miskin.

Walaupun sibuk dengan segala aktivitas, Ozanam juga tekun studi hingga memperoleh gelar Doktor Hukum. Ia berpraktek di Lyons mengajar di Universitas di kota tersebut. Tetapi ia menyadari bahwa bakat dan minat sesungguhnya di bidang Sastra. Maka ia kembali kuliah kesusastraan di Universitas Sorbonne dan meraih gelar Doktor Sastra Asing pada tahun 1839. Ia mengajar dan diangkat menjadi mahaguru di bidang kesusasteraan asing di universitas paling bergengsi tersebut pada usia 31 tahun.

Pada tahun 1841, Frederic Ozanam menikah dengan Amelie Soulacroix, seorang yang mempunyai perhatian yang sama dengannya dan dari pernikahan mereka mempunyai seorang putri bernama Marie. Di tengah kesibukan profesinya dan Ozanam menjadi suami yang baik bagi Amelie dan ayah bagi Merie.

Di samping kehidupan Ozanam dalam dunia akademis, ia terus menerus bertugas melayani Gereja dan pengabdiannya yang penuh pada perkembangan SSV. Ia juga banyak menyumbangkan karyanya dan menjadi editor buletin sosial dan majalah katolik yang terkenal. Ia bertindak sebagai penghubung antara Dewan-dewan di Paris dan Lyon dan menjadi tuan rumah dalam pertemuan-pertemuan untuk kepentingan Gereja. Sayang karena fisiknya yang lemah dan penyakitnya berangsur-angsur melemahkan kekuatan dan tenaganya. Ozanam meninggal dunia di Marseilles pada tanggal 8 September 1853 di usia 40 tahun.

Proses pengajuan beatifikasi Frederic Ozanam telah dimulai tahun 1925. Tepat pada peringatan perayaan 160 tahun berdirinya SSV, yaitu tanggal 27 April 1993 di depan anggota-anggota SSV yang berkumpul di Roma, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II berkata:“Kita harus berterima kasih kepada Tuhan atas berkah anugerah yang telah diberikan kepada Gereja, dengan adanya Ozanam. Suatu keajaiban yang luar biasa, dihasilkan dari karya Ozanam terhadap Gereja, masyarakat, dan orang miskin. Mahasiswa ini, profesor ini, bapa para keluarga ini, telah menimbulkan suatu keyakinan yang kuat dan kasih sayang yang tiada henti. Namanya tidak lepas dari nama St. Vinsensius de Paul…Bagaimana kita tidak akan berharap bahwa Gereja akan juga menempatkan Ozanam di antara para kudus?”

Pada tanggal 6 Juli 1993, dihadiri oleh Mr. Amin A. de Tarrazi, Ketua Dewan Umum SSV Internasional, Rev. Fr.Gioseppe Guerra, dari Kongregasi Misi (CM); para Postulator; Mgr. Luigi Porsi, Advocate; dan suster Maria Antonia Di Tano, PK; Bapa Suci menyatakan Frederic Ozanam sebagai Venerabilis (“layak untuk dimuliakan”). 4 tahun kemudian Bapa Suci Yohanes Paulus II dalam rangka rangkaian Pertemuan Kaum Muda Sedunia tanggal 22 Agustus 1997 di Katedral Notre Dame de Paris menyatakan Frederic Ozanam sebagai Beato dan Ozanam ditunjuk sebagai Model Hidup Kristiani yang berkecimpung dalam kerasulan awam di bidang sosial.

Pesta Peringatan Beato Frederic Ozanam adalah 9 September.

Create Account



Log In Your Account