Hari Raya St Perawan Maria dikandung tanpa noda

15391040_2162375947319989_8411750462933115064_n

Sahabat2 Vinsensian Ytk.

Berikut adalah renungan mengenai Perayaan Hari Raya St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda yang ditulis secara khusus oleh Rm. Anton Sad Budianto CM (Penasehat Rohani Denas SSV Indonesia).
Selamat membaca dan merenungkan.

Semoga kita tersemangati dan semakin menghayati Perayaan Serikat ini.
Salam Vinsensian
Berkah Dalem

????HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA (8 Desember)

Dalam Pembukaan setiap pertemuan SSV, kita mendoakan: Ratu yang terkandung tanpa noda asal, doakanlah kami. Darimana mana asal doa ini? Kita perlu menelusuri sejarahnya dan memahami maknanya.

Kasih umat kristiani kepada Bunda Maria sudah sejak awal Gereja. Kisah Para Rasul memberi kesaksian bahwa Bunda Maria suka berkumpul dengan Para Rasul.
Setelah Bunda Maria wafat, kasih tersebut diwujudkan dalam devosi. Salah satunya adalah devosi kepada Maria yang dikandung tanpa dosa.

Kita tidak tahu persis kapan pesta atau devosi ini dimulai, yang pasti Paus Sixtus IV pada tahun 1476 menetapkan 8 Desember sebagai Pesta Maria dikandung tanpa dosa ini.

Frederic Ozanam dan teman-temannya yang menjadi anggota pertama dari SSV menetapkan 8 Desember sebagai pesta bagi SSV.

Peneguhan iman akan Maria dikandung tanpa noda dosa juga nyata dalam Penampakan Maria Medali Wasiat kepada Santa Katarina Laboure PK, sehingga doa bagi Maria Medali Wasiat adalah:”Ya Maria semula jadi tak bercela, doakanlah kami yang berlindung kepadamu.”

Baru 20 tahun kemudian Paus Beato Pius IX menetapkannya sebagai dogma(1854), maka 8 Desember menjadi Hari Raya Santa Maria Dikandung Tanpa Noda.

Hal ini diteguhkan kesaksian Bernadette Soubirous yang menerima penampakan Bunda Maria di Lourdes yang memperkanlkan diri sebagai “Yang Dikandung Tanpa Noda” (1858).

SSV mohon lewat Bunda Maria yang dikandung tanpa noda bagi Konferensi Konferensi dan Dewan-Dewannya keteladanan dan perlindungan dalam hidup dan karyanya (Doa Pembukaan setiap pertemuan).

Apa relevansi Hari Raya ini bagi penghayatan kita sebagai Vinsensian? Iman Vinsensian didasarkan pada inkarnasi, sabda yang menjadi manusia dalam diri Yesus. Yesus menjadi manusia lewat kesediaan Perawan Maria untuk mengandung Dia atas kuasa Roh Kudus.

Perawan Maria disiapkan untuk mengandung Putra Allah, maka Gereja meyakini Dia dikandung tanpa noda dosa. Iman keyakinan ini harus dipahami dengan benar karena jika tidak bisa membuat umat pasif dalam berusaha menjadi kudus, karena melihat kekudusan Bunda Maria itu melulu karya Tuhan.

Padahal inilah kenyataannya, kekudusan itu di satu pihak memang anugerah Tuhan.
Dari diri kita sendiri tak mungkin kita menjadi kudus. Kita manusia dipanggil atau diciptakan Tuhan sebagai citraNya yang adalah kudus, karena Tuhan itu memang mahakudus.

Apa artinya kudus? Kudus berarti dipisahkan, dikhususkan, dibedakan dari yang duniawi.
Karena itu kudus sering dilawankan dengan sekular(duniawi).

Sebagai mahluk rohani, seperti Tuhan kita memang bukan dari dunia ini (Yoh 17:16). Karena itu makanan kita yang sejati, sumber hidup kita adalah persatuan kita dengan Tuhan.

Bagaimana persatuan dengan Tuhan itu? Itu bukan terutama persatuan biologis, Yesus sendiri mengatakan: “IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”(Luk 8:21)
Jadi kudus jelas maknanya: mendengarkan dan melaksanakan firman Allah.

St Vinsensius menegaskan:”Jalan yang paling pasti dan cepat untuk mencapai kekudusan adalah melaksanakan kehendak Allah dalam segala hal.” Bunda Maria memberi teladan yang jelas: “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMu.” (Luk 1:38)

Kita menghayati Hari Raya yang kita doakan setiap pembukaan pertemuan kita ini dengan meneladan Bunda Maria.

Kita percaya bahwa dengan pembaptisan kitapun dibersihkan dari noda dosa. Tidak cukup kita menjaga kebersihan kita, seperti Bunda Maria kita mau mengisi hidup kita dengan “mengandung Kristus” dalam hati dan kesadaran kita.

PERTAMA, itu berarti kita mau membaca, merenungkan, dan meresapkan Injil setiap hari, karena Injil mengandung kehidupan dan karya Tuhan Yesus.

KEDUA, kita mau berpikir, berkehendak, berkata, dan bertindak dalam terang Injil. Dengan demikian kita terus menerus mewujudkan sabda(Injil) menjadi manusia (dalam seluruh hidup kita)

KETIGA, kita mau melihat segala peristiwa dan sesama yang kita jumpai, termasuk dalam kunjungan orang miskin dalam terang Injil. Dengan demikian kita akan lebih peka akan kehadiran Tuhan dan bimbinganNya setiap saat dalam hidup kita.Begitulah Tuhan bukan lagi suatu yang abstrak, namun Pribadi yang dekat, kita rasakan kehadiran dan bimbingan kasihNya setiap saat.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *